Telekomunikasi Murah Hingga Pelosok Negeri


Posted by hafidznovalsyah on December 30, 2011

TARIF MURAH. Seorang penari menelepon kerabatnya sebelum tampil dalam pertunjukan Topeng Ireng pasca erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (2011).Tarif telepon seluler yang semakin terjangkau oleh hampir semua lapisan masyarakat memperlancar arus komunikasi dan penyebaran informasi. Hafidz Novalsyah/NGTraveler-Indonesia

KEMUDAHAN KOMUNIKASI. Seorang penari menghubungi rekan-rekannya sebelum Tari Perang diselenggarakan sebagai atraksi wisata di desa adat Bawomataluo, Pulau Nias (2011). Layanan telekomunikasi nirkabel kini sudah mencapai pelosok negeri, mempermudah komunikasi jarak jauh antarpenduduk. Hafidz Novalsyah/NGTraveler-Indonesia


Posted in Uncategorized | 2 Comments »

Simulasi Kebakaran, Alarm Kewaspadaan Diri


Posted by hafidznovalsyah on December 1, 2011

Bulan Desember belum genap satu hari bergulir, tapi deras hujan bersamaan dengan desau angin kompak menyapa saya dan ribuan karyawan lain di kantor saya. Hari ini saya mulai menjalani tahun kedua saya bekerja, setelah setahun lamanya masa merantau di metropolitan Jakarta. Ada ungkapan terkenal tentang Jakarta yang kerap bergaung di antara para perantau, “ibukota lebih kejam daripada ibu tiri”. Sejujurnya saya kurang setuju dengan ungkapan ini atau setidaknya menyepakati dengan catatan, yaitu dengan lanjutan “…kepada perantau yang tidak siap menghadap sang ibukota”. Kesiapan yang dimaksud tidak hanya kesiapan skill tetapi juga kesiapan mental.

Ialah rahasia umum jika megapolitan Jabodetabek dengan segala problematikanya seakan menjadi momok bagi penduduknya. Mulai dari tingkat kriminalitas yang tinggi, godaan konsumerisme, kecenderungan adab dan norma bermasyarakat yang longgar, karakter individualistis, banjir tahunan, penjara kemacetan, hingga bahaya kebakaran. Untuk yang terakhir disebut ada data yang saya kutip dari feature di majalah NGI yang berjudul Laga Sang Ksatria Penantang Api bahwa, “Setiap hari sedikitnya dua kebakaran memberangus Jakarta. Setiap minggu dua ratus orang kehilangan tempat tinggal.”

Oleh karena segala ejawantah fakta yang ada itu, setiap individu “the jakartans” (mengutip sebutan penduduk Jakarta yang populer di lini masa Twitter) harus memiliki kesiapan mental yang mumpuni. Kondisi mental yang cakap akan sangat membantu dalam menjaga keseimbangan psikologis dalam menghadapi setiap tantangan di tengah laju rutinitas karir.

Nah siang tadi pengelola gedung kantor saya menyelenggarakan simulasi kebakaran yang melibatkan seluruh bagian di kantor delapan lantai ini. Simulasi yang terselenggara seimbang antara keseriusan dan canda tawa ini melibatkan dua mobil damkar dari posko Kebon Jeruk. Lengkap pula dengan adanya “pengasapan” yang baunya persis penyemprotan anti demam berdarah. Walhasil karyawan yang asyik menonton petugas damkar menyemprot air di kantin berhambur membubarkan diri bak nyamuk Aedes aegypti dibom abate. Ternyata diperkirakan setidaknya 44 % dari sekitar 14.000 gedung bertingkat di Jakarta belum memenuhi standar keselamatan akan bahaya kebakaran, seperti tersedianya fasilitas seperti hydrant, tangga darurat, dan tabung pemadam api. Hal ini juga diperkuat dengan adanya rujukan legal yaitu UU No 28 Tahun 2002 dan PP No 36 Tahun 2005 tentang standar kelaikan bangunan di Jakarta. Serta Peraturan Daerah No 8 Tahun 2008 tentang pencegahan dan penanggulangan bencana kebakaran di wilayah DKI Jakarta. Saya sangat mengapresiasi agenda tahunan kantor saya ini, karena selain bisa ga kerja #eh, untuk saya yang notabene pengidap gejala workaholic ini bisa kembali mengingat akan pentingnya kewaspadaan akan keselamatan diri sebagai antisipasi akan aneka rupa ancaman bahaya yang bisa kapan saja menyapa tanpa dinyana. Semoga Tuhan selalu melindungi kita semua, amiiin.

Rekaman citra dari simulasi kebakaran:

Begitu alarm menyalak, evakuasi diri keluar gedung dengan tenang lewat tangga darurat (jangan pakai lift).

Begitu alarm menyalak, evakuasi diri keluar gedung dengan tenang lewat tangga darurat (jangan pakai lift).

D Biarkan para laksana praja ksatria api bekerja

Mobil pemadam kebakaran tiba, jangan bengong mengerumuni mobil ini :D Biarkan para laksana praja ksatria api bekerja

Bergegas menyelamatkan...hape yang tertinggal hohoho

Bergegas menyelamatkan...hape yang tertinggal hohoho

Petugas damkar (pura-pura) menyemprot api.

Petugas damkar (pura-pura) menyemprot api.

D

Diasapi, kondisi di mana minyak wangi harus disemprot lagi :D

Sang Danwil, mensupervisi jalannya simulasi.

Sang Danwil, mensupervisi jalannya simulasi.

Semua berkumpul di halaman depan kantor mengikuti proses evaluasi simulasi yang diakhiri dengan.... foto bersama -_-

Semua berkumpul di halaman depan kantor mengikuti proses evaluasi simulasi yang diakhiri dengan.... foto bersama -_-

Terima kasih atas kunjungannya.
Tweet me @hafidznovalsyah.


Posted in Uncategorized | 2 Comments »

Foto Dokumentasi yang Berbeda (Dokumentasi Event Frame #10)


Posted by hafidznovalsyah on November 7, 2011

Dari sebuah event/acara yang berlangsung bagus dan meriah, penilaian terbilang sukses diselenggarakan juga datang dari bagaimana dokumentasi acara itu dilaporkan (baik melalui foto, video, maupun tulisan). Jika dokumentasi visualnya bagus tentunya orang yang tidak hadir dalam acara tersebut akan lebih mudah mempercayai kalau acaranya bagus. Bahkan bisa jadi acaranya nggak lancar-lancar amat tapi tetap bisa terlihat sukses diselenggarakan berkat terlihat bagusnya acara tersebut dalam dokumentasinya.

Jadi bisa disimpulkan dokumentasi yang baik dari sebuah acara itu penting. Itulah mengapa pada acara yang besar, pihak penyelenggara (event organizer) tidak segan-segan menyewa fotografer top untuk mengabadikannya. Selain pihak penyelenggara, pihak klien (si empunya acara) dan pihak pendukung acara (misalnya perusahaan supplier tata cahaya, panggung, artis, hingga katering) menghadirkan fotografer sendiri untuk mengambil foto dokumentasi yang sesuai dengan kepentingan masing-masing. Dan dari sisi fee, sepengetahuan saya, jumlahnya bisa hampir menyamai proyek iklan sederhana atau advertorial di media cetak. Ini bisa jadi sumber pemasukan untuk subsidi silang dengan proyek personal seorang fotojurnalis lepas (*cerita pengalaman hehe).

Kondisi masyarakat yang semakin terdidik membuat kebutuhan akan pemuasan visual yang baik juga meningkat. Selain itu penerimaan akan gaya sajian visual yang lebih berbeda, buah improvisasi kreativitas si dokumentator juga semakin baik. Oleh karena itu saya rasa, gaya dokumentasi yang lebih menarik secara visual bisa dikatakan akan menjadi tren ke depannya (dalam ranah foto dokumentasi acara).

Berikut sedikit berbagi tips tentang bagaimana membuat foto dokumentasi yang berbeda:
1. Pastikan ada foto luas yang menggambarkan suasana acara secara umum.
2. Selain itu jangan lupa ambil foto-foto detil yang menarik.
3. Nah yang agak bahaya kalo lupa itu: foto orang penting yang ada di acara (bisa dari sisi “bintang” utama acara, orang penting dari sisi klien (pejabat/bos), dll.)
4. Mainkan teknik-teknik fotografi kreatif: siluet, slow speed, creative flash lighting (misalnya slow sync, side lighting), refleksi, dll.
5. Koordinasi yang baik dengan pihak penyelenggara, selalu kontak dengan seksi acara dan memegang catatan rundown acara sendiri (tandai bagian acara yang penting).
6. untuk mendapatkan ekspresi, jangan segan untuk berinteraksi sebelumnya.
7. Kuasai venue/tempat acara berlangsung.
8. Kalo menurut saya jangan melulu bikin gambar lebar dan “aster” (asal terang, kayak lighting sinetron hehe), b o s e n.

Rasanya kurang afdol kalau di posting ini saya nggak nempel foto yah, di bawah ini foto dokumentasi event Frame#10 w/ Tarmizy Harva (Stringer Reuters) - “Tell The Truth to The World Through Picture: Covering Conflict” @ Blitzmegaplex, Grand Indonesia, Jakarta (1 Oktober 2011) yang saya ambil:

Tarmizy Harva, Stringer fotografer Kantor Berita Reuters untuk wilayah Aceh & Sumatra Utara. Peraih World Press Photo 2004.

Tarmizy Harva, Stringer fotografer Kantor Berita Reuters untuk wilayah Aceh & Sumatra Utara. Peraih World Press Photo 2004.

Ngobrol fotografi Fotokita.net + Nonton bareng The BangBang Club.

2in1 Event: Ngobrol fotografi Fotokita.net + Nonton bareng The BangBang Club.

Rame-rame hore-hore.

Rame-rame hore-hore.

Absen absen absen.

Absen absen absen.

Yang paling sibuks

Mbakyu Vega Probo, Editor National Geographic Traveler Indonesia - @vegaprobo

Mbakyu Vega Probo, Editor National Geographic Traveler Indonesia - @vegaprobo

Cari kursi

Cari kursi

Video kampanye tema 7 Miliar National Geographic Magazine.

Video kampanye tema 7 Miliar National Geographic Magazine.

Presentasi Tarmizy Harva dengan foto-fotonya yang menjadi saksi kekejaman konflik di Aceh.

Presentasi Tarmizy Harva dengan foto-fotonya yang menjadi saksi kekejaman konflik di Aceh.

Tanya-jawab

Tanya-jawab

D

Acara ini dipersembahkan oleh: National Geographic Indonesia, Thank you :D

Foto-foto di atas juga menghiasi artikel “Dokumentasi Frame#10″ dan “Liputan frame 10, Covering Conflict”.

Semoga bisa sedikit berguna, terima kasih atas kunjungannya. Salam.
Tweet me @hafidznovalsyah


Posted in Uncategorized | 8 Comments »

Pasar Semen, Pasar Semrawut


Posted by hafidznovalsyah on November 4, 2011

Pekan lalu saya mendapat kesempatan belajar di sebuah workshop bertemakan Human Rights and Social Documentary Photography dengan pembicara-pembicara yang mumpuni di bidangnya masing-masing, mulai dari Mas Beawiharta (Reuters), Mas Adhi Kusumo (jebolan workshop World Press), Mas Dian Ali Rachman (Poros Photos), Mas Iben, Mbak Ria serta Ibu Hesti Armiwulan (Komnas HAM), selain itu juga ada senior saya hehe… Mas Arief Priyono (AntaraFoto).

Oiya saya juga belajar bersama teman seperguruan FFC (klub fotografi Fisip UNS): Dwi Prasetya (Solopos), Abdullah Azzam (Joglosemar), Dian Dwi Saputra (Ketua FFC 2011-2012) dan juga teman-teman baru para fotografer muda Kediri, Malang, dan sekitarnya yang sangat antusias mengikuti acara ini. Gelaran tular ilmu ini dihelat di Wisma Werdiningsih yang terletak di kaki Gunung Wilis, Puhsarang, Kediri, Jawa Timur selama 3 hari (2 hari di antaranya mulai dari jam 8 pagi sampai jam setengah 11 malam *fiuh). Jua tak lupa disebut tiga serangkai panitia Mbak Wati, Oca, dan Mas Kiting (VHR).

Selain share foto mas Bea yang jelas berkelas dunia dan materi photo story dari mas Adhi yang ga kalah penting, materi-materi tentang Hak Asasi Manusia mulai dari paparan kondisi, logika definisi, contoh kasus, hingga instrumen penegakan atas hak yang paling kodrati dari makhluk Tuhan yang paling seksi #eh ini sangat berarti dan membuka horison baru sebagai fotografer dokumenter yang paham akan HAM. Menurut saya ini penting, karena hak asasi inilah yang sebenarnya juga merupakan benang merah antara subyektif fotografer dan subyek foto dokumenternya.

Nah, intinya dari posting ini sebenernya pengen share beberapa foto motret sekejap di Pasar Semen, Kediri yang bertempat tidak jauh dari lokasi acara hehehe. Jadi ceritanya kemarin itu 15 peserta dibagi menjadi dua kelompok lalu motret di Gereja Puhsarang dan di Pasar Semen. Pasar Semen ini bukan pasar yang jualan semen, material bangunan lho, tapi pasar tradisional yang ada di daerah Semen. Karena penugasan motretnya sebisa mungkin dihubungkan dengan aspek HAM, maka saya mencoba menangkap hal-hal yang saya lihat berkontradiksi jika ditilik dari hak-hak manusia yang melekat pada setiap manusia yang beraktivitas di sini, baik pedagang, pembeli, pengunjung, hingga pelintas jalan di sekitarnya. Seperti misalnya hak untuk menikmati kondisi kerja yang adil dan menyenangkan (Pasal 6 UU RI Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights).

Seperti tertera pada judul posting ini, Pasar Semen ini sudah tidak layak menampung kegiatan jual beli warga, karena sangat semrawut. Paling mencolok ialah lalu lintas jalan akses menuju pasar ini, belum lagi los-los para pedagang atau bangunan pasar secara umum yang kasat mata sudah kumuh dan tak lagi cukup menaungi. Kondisi ini coba saya tangkap untuk disajikan dalam beberapa foto karya hafidznovalsyah di kala weekend + perasaan bebas. Berikut foto-fotonya semoga berkenan:

Lalu lalang kendaraan bermotor dan warga yang saling lintas.

Lalu lalang kendaraan bermotor dan warga yang saling lintas.

Dua bus besar memaksa melawan arah ke jalan sempit di depan pasar.

Dua bus besar memaksa melawan arah ke jalan sempit di depan pasar.

Ketidakteraturan, klise khas negeri ini.

Ketidakteraturan, gambaran klise negeri ini.

)

''Freestyle'' becak :)

Parkiran sepeda motor di depan masjid (iya itu masjid).

Parkiran sepeda motor di depan masjid (iya itu masjid).

Kokoh dan reyot.

Kokoh dan reyot.

Kondisi los bagian dalam yang pengap.

Kondisi los bagian dalam yang pengap.

2 in 1, toko emas sekaligus kelontong.

2 in 1, toko emas sekaligus kelontong.

Sugeng (73), potret pedagang pasar.

Sugeng (73), potret pedagang pasar.

Jendela kantin.

Jendela kantin.

Gang gelap, akses dari dan menuju pasar.

Gang gelap, akses dari dan menuju pasar.

Menunggu angkot.

Menunggu angkot.

Berdesakan pulang, yang dinafkahi menanti.

Berdesakan pulang, yang dinafkahi menanti.

Semoga instansi terkait dan juga masyarakat Kediri bisa bersama-sama melakukan yang terbaik untuk Pasar Semen dengan segala ketradisionalan dan perekonomian lokal yang bergantung padanya.

Terima kasih sudah sudi mampir melihat-lihat. Salam.
Tweet me @hafidznovalsyah


Posted in Uncategorized | No Comments »

Berbagi Cerita dengan memangterlalu.blogspot.com


Posted by hafidznovalsyah on October 20, 2011

Beberapa hari lalu saya secara mengejutkan diwawancarai oleh Rizki Ramadhan dari memangterlalu.blogspot.com. Setelah sempat bertanya-tanya apakah saya orang yang pantas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seberat itu (menurut saya), akhirnya dengan segenap usaha saya mencoba menjawabnya, menjawab dengan niat berbagi dalam keterbatasan saya yang masih baru di dunia fotojurnalistik praktis. Di artikel tersebut juga ditampilkan foto-foto yang diambil dari blog multiply saya saat baru belajar memotret hafidznovalsyah.multiply.com. Sayang blog yang mengawali segalanya itu, lama sekali tidak sempat saya update posting-nya. Semoga ke depannya saya bisa memberi sentuhan baru di situ. Dengan segala kerendahan hati berikut saduran dari artikel tersebut, semoga berguna: memangterlalu.blogspot.com

Selasa, 18 Oktober 2011
[Patut Diberi Salut] Hafidz Novalsyah: Membingkai Dunia Dengan Rasa dan Keyakinan
Awalnya, saya ingin mencantumkan tempat ia bekerja di bagian judul untuk menunjukkan betapa dia hebat. Namun, setelah saya membaca jawaban-jawaban serta foto-fotonya, ternyata saya salah, dia memang patut diberi salut adanya. Tanpa harus perlu disebut profesinya sebagai fotografer majalah National Geographic Indonesia sekali pun.

Dia adalah Hafidz Novalsyah, pemuda yang seumuran sama saya. Sayang, kalian tidak begitu tahu berapa umur saya, jadi saya perlu memberi tahu kalau saya dan Hafiz sama-sama berumur 23. Kita juga sama-sama kuliah komunikasi, sama-sama pecinta fotografi, bedanya Hafiz lebih menggiati dan menjadikannya sebagai profesi, pun tempat kerjanya dianggap mumpuni bagi para pegiat fotografi lainnya. Tapi ada yang satu hal pasti yang membedakan saya dan Hafiz, saya sudah lulus kuliah. Haha. *becanda Fidz.

Menyaksikan foto-foto dokumenter Hafiz itu sangat menarik. Eksplorasi angel dan momennya membuat foto menjadi bernyawa karena bercerita. Kedalaman observasi pun selalu dilakukan Hafidz ketika akan melakukan pemotretan ke suatu tempat atau acara. Selain itu, rasa dan keyakinan menjadi dua jurus utamanya dalam mengamalkan fotografi dokumenter.

Dari pada ngalor ngidul mending langsung aja kita simak siaran langsung dan bisa diulang-ulang semaumu, hasil wawancara saya dengan bung Hafidz ini. Banyak cerita inspiratif dan ungkapan-ungkapan diplomatis yang patut kita catat dan renungi.

Mari…

Gang Ampiun, Jakarta

Gang Ampiun, Jakarta

Halo hafiz, coba-coba perkenalkan dulu siapakah gerangan dirimu ini?
Halo, salam kenal nama asli saya Hafidz Novalsyah. Saya tumbuh besar di kabupaten kecil Banjarnegara sampai umur 18, kuliah di Surakarta sampai umur 23 (masih mencoba lulus), sekarang mencari nafkah di Jakarta.

Selidik punya selidik katanya kamu itu fotografernya Nasional Geyogerapik yah.. Tjie.. Gimana rasanya bisa jadi fotografer dari majalah yang paling di elu-elukan para fotografer ini?
Iya saya sekarang bekerja di National Geographic Indonesia dan pekerjaan utama saya menjadi tukang foto keliling di National Geographic Traveler-Indonesia. Rasanya? Kalau pertanyaan seperti itu ya jadi berat banget. Tapi saya bersyukur bisa bekerja, belajar, dan bekerja di NGI. Saya merasa sangat beruntung bisa berproses di dunia yang saya tekuni 3 tahun belakangan di seusia saya ini, di dalam “the yellow border”.

Ceritakan juga dong, bagaimana ceritanya kamu bisa bergabung. Kabarnya berawal dari magang yah? Waaaa..
Kabarnya meleset hehe. Saya belum pernah magang di NGI. Saya magang di Antarafoto Semarang dan Jakarta serta di Kompas Biro Jawa Tengah. Perkenalan awal saya dengan NGI sekitar 2 tahun lalu saat kampus saya menyelenggarakan workshop fotojurnalistik, dan salah satu pembicaranya Mas Tantyo Bangun (ex-Editor in Chief NGI). Beberapa saat berikutnya saya mendapat kesempatan sebagai kontributor untuk NGT hingga akhirnya dipanggil ke Jakarta oleh Mas Reynold Sumayku (Editor Foto NGI).

Warna-Warni Sehari-hari

Warna-Warni Sehari-hari

Jamu, The Old Fashioned

Jamu, The Old Fashioned

Bagi kamu Natgeo itu apa? Setelah bekerja di Natgeo, pelajaran seru apa yang kamu dapat (khususnya ttg fotografi)?
National Geographic bagi saya mungkin tidak terlalu berbeda dengan National Geographic bagi orang lain, si yellow border ini adalah majalah dan channel yang menjadi rujukan visual yang luar biasa dan sumber informasi tentang alam semesta. Dari jendela kuning itu kita seolah bisa “melihat” ke sisi lain dunia ini dengan “bingkai” yang penting dan menakjubkan.

Lalu, pelajaran seru apa yang kamu dapat dari kerja di sana?
Sesuai pekerjaan utama saya sebagai fotografer, pelajaran utama sudah tentu di bidang fotografi. Di sini saya membiasakan diri bekerja dengan “rapi”. Setiap ide artikel yang ada akan didiskusikan bersama Editor Foto, Editor (NGI/NGT) dan juga Art Director (bahkan dengan designer-nya langsung). Hal ini membuat pengembangan cerita menjadi matang, sinkron dengan tulisan, dan tersaji indah di halaman majalah. Dalam proses fase-fase ini fotografer sangat dihargai sebagai pencipta visual cerita yang memiliki ide, kreativitas, dan opini sendiri (benar-benar menjadi fotografer, bukan tukang foto).

Wah asik juga yah, jadi kalau udah kerja di media kita nggak bisa memaksakan subjektivitas kita yah. Harus bisa disesuaikan dengan alur cerita dan konsep.Lanjut!
Serunya, saat mendapat penugasan tentang orangutan dan restorasi hutan, saya belajar banyak dari pelaku pelestari satwa dan hutan, selain itu saya juga harus mengkaji sejumlah buku sambil mengingat serpihan pelajaran di SMP dan SMA yang berkaitan. Di penugasan berikutnya saya menjadi fotografer dari artikel tentang sejarah, Identitas yang punah tentang hilangnya nama-nama asli sejumlah daerah di Jakarta. Saya banyak berdiskusi dengan staf NGI yang lain dan juga penulisnya yang seorang historian. Otak saya serasa di-shift dari alam ke sejarah. Saat lelah, saya berpikir kalo otak saya terus dipekerjakan begini dan menjadi terbiasa, saya berharap bisa jadi orang yang lebih bermutu, setidaknya menurut saya sendiri haha.

Patung Nani Wartabone, Gorontalo

Patung Nani Wartabone, Gorontalo

Ritual Ngarot, Indramayu

Ritual Ngarot, Indramayu


Tuh fren, fotografi itu bukan perihal motret belaka, kita juga kudu melakukan riset-riset untuk mendukung. Terus, petualanganmu motret udah ke mana aja? Ada cerita atau pengalaman seru nggak selama travelling?
Kalo pengalaman secara geografis, lebih banyak saya dapat dari penugasan NGTraveler. Tahun ini ada dua liputan geoturisme utama yang saya kerjakan, yaitu Nias dan Gorontalo. Hampir semuanya seru ya, karena untuk membuat foto travelling yang lebih “hidup” kita juga harus menghidupkan perjalanan itu dengan menikmatinya dengan benar, perjalanan yang sustainable tentunya. Berbaur dengan penduduk dan local genius di tempat-tempat yang baru saya kunjungi selalu menorehkan pengalaman yang sangat berarti bagi saya.

Sekarang di kalangan fotografer, terutama fotografer dalam tahap hobi. NatGeo bukan lagi dianggap sekedar sebagai sebuah media, melainkan sebagai salah satu citra-citra sebagai fotografer tangguh dan petualang, misalnya. Terbukti, banyak bermunculan kaos, jaket, tas dan berbagai bentuk lainnya yang mencomot/ngebajak logo NatGeo? pendapat kamu tentang fenomena ini apa?
Kalau dari sudut pembajakan ya menyedihkan. Saya tau pembajaknya masih muda-muda dan sangat berbakat (bakat design & marketing tentunya). Cuma dari kacamata saya kurang tepat ejawantahnya. Dengan berat hati saya merasa fenomena itu seperti orang muda membajak orang muda, bukan cuma barang dan harga dirinya yang dibajak, tapi mental. Mental di masa pencarian jatidiri. Aktualisasi diri eksternal seperti itu jadi artifisial.
Nge-fans itu boleh aja, cuma bukan berarti jadi groupies (in my honest opinion) yang nerabas aturan. Seperti muslim yang harus yakin kehalalan apa yang dimakannya, sebaiknya kita juga tau “keaslian” apa yang kita pakai. Setidaknya itu akan merujuk ke kecerdasan kita, bepikir panjang nggak sih, perlu nggak sih.
Yang lebih menyedihkan lagi saat prosesi Puja Waisak lalu banyak “orang membawa kamera” yang mengaku “meliput” prosesi tersebut dengan adab yang kurang baik, baik kepada para umat yang sedang beribadah dan juga kepada orang lain yang jelas pekerjaannya meliput event tersebut. Fotografer itu dikenal dari karyanya dan visinya, bukan kaos, topi, tas, ataupun kameranya.

*plok plok plok, diplomatis sekali. Ayo anak muda, mari kita stop mencari dan mempercayakan citra dan jati diri pada sebuah brand, apalagi kalau kita tidak tahu secara mendalam brand itu. Percayalah dengan kemampuan diri kita. Lanjut, Fiz. Sebenernya syarat-syarat apa sih yang diperlukan untuk menjadi fotografer NatGeo?
Waduh, syarat-syaratnya apa ya? Karena NGI publishernya Kompas Gramedia Group ya syarat administrasinya tidak jauh berbeda dengan perusahaan lainnya di Indonesia. Kalau secara profesi ya juga sama dengan fotografer lainnya, rajin motret, portfolio yang personal dan jelas, attitude yang baik dan profesional tentunya, karena fotografer nggak kerja sendiri, tapi dengan banyak pihak.

Orangutan Sumatera, Jambi

Orangutan Sumatera, Jambi

Loncat Batu, Nias

Loncat Batu, Nias

Nah, sekarang tentang kefotografianmu, apa yang membuatmu tertarik dengan fotografi? Kapan mulai nyemplung?
Fotografi saya bermula 4 tahun lalu di unit kegiatan mahasiswa, FFC (klub fotografi Fisip) di kampus saya, Komunikasi, Universitas 11 Maret. Banyak alumni kampus yang tergabung di klub itu yang kini bekerja sebagai fotojurnalis, baik di media besar nasional maupun internasional. Saya banyak belajar di sana, berproses dan membangun network bersama teman-teman lain.
Kenapa suka fotografi? Aahh siapa yang tidak suka haha. Saya menikmati memotret perjalanan dan dokumenter, sesuatu yang membuat otak, hati, dan hampir semua bagian tubuh saya bersatu padu menghasilkan sesuatu yang banyak orang suka.

Di luar pekerjaan, kehidupan fotografimu bagaimana sih? Fotografi macam apa yang kamu geluti?
Di luar pekerjaan, fotografi saya nggak jauh berbeda, saya memotret keluarga dan teman-teman saya terus di-share di social media hehe. Setiap merasa jenuh saya menyempatkan diri berjalan sendiri memotret sesuka saya dan berbagi senyum kepada orang yang saya temui di jalan.

Sebagai fotografer Natgeo kan pasti akrab dengan fotografi travel dan documenter nih. share juga dong tentang hal-hal apa yang perlu diperhatikan ketika memotret travel dan documentary?
Memotret travel dan dokumenter sudah banyaaaaak sekali materinya di buku dan internet. Kalau boleh saya menambahkan sedikit, memotretlah dengan rasa dan keyakinan. Kedua hal itu didapat dari mengerti apa yang kita foto. Penguasaan teknis dan materi foto membuat kita berkarya dengan lebih profesional.

Siapa fotografer favoritmu? Ceritakan juga hal apa yang menyebabkanmu suka sama dia.
Yang lokal aja yah, saya suka melihat indahnya visualisasi dari foto karya Yuniadhi Agung dan Fanny Octavianus, saya juga belajar enterpreneurship fotografi dari Feri latief, Yudhi Sukma Wijaya, Deniek Sukarya, kalo hati fotografi dari Oscar Motuloh, Reynold Sumayku, dan Dwi Oblo. Mereka semua fotografer yang saya hormati

Mari di googling nama-nama fotografer yang disebut. Siapa tahu bisa jadi inspirasi kita juga.
Terus, punya projek personal yang sedang atau akan dikerjakan? Coba diceritakeun?
Ada yang saya kerjakan tapi belum bisa disebut personal project juga sih, karena belum semua elemen dari personal project saya penuhi. Saya suka memotret pasar tradisional, fashion, dan colors.

Roda-Roda Gila, Solo.

Roda-Roda Gila, Solo.

Sejauh ini, selain bisa kerja di Natgeo, pencapaian/prestasi apa yang sudah kamu dapatkan dan kamu banggakan?
Pertanyaan paling susah. Pencapaian yang ingin saya capai lebih ke kebutuhan perasaan saya bukan portofolio karir. Saya bersyukur dan merasa beruntung bisa berada di titik ini sekarang (dalam segala hal bukan hanya fotografi). Mungkin yang bisa saya rasa sebagai pencapaian ialah perasaan bersyukur dan konsisten atas apa yang telah dicapai dan fokus untuk mau terus mencapai hal lain. Konsisten dan fokus dalam fotografi itu mimpi yang realistis. Selain itu saya berharap fotografi saya bisa berguna bagi orang lain.

Terakhir, beri pesan dong untuk kawan-kawan pembaca!
Pesan? Waduh saya masih terlalu hijau dan sederhana untuk bisa berpesan.

Yaudah kalau nggak mau beri pesan, beri prima aja (Barry Prima, -red). Pilih mana?! 1..2..3.. Ya, waktu habis, kamu harus beri pesan!
Selayaknya pekerjaan sebagai pewarta foto, pesan yang saya sampaikan dalam karya-karya saya sejatinya merupakan fakta nyata dari apa yang ada di bumi dan dunia ini. Saya hanya memilihkan dan membingkainya menjadi lebih mengena untuk diresapi nilai-nilainya. Kalau boleh sedikit share, semenjak saya berada di tengah keluarga besar NGI, pelajaran penting yang saya dapat ialah saya menjadi lebih sadar terhadap kepentingan hidup saya di tengah kepentingan pelestarian alam semesta ini. Saya yang datang dari kampung dan merantau di megapolitan Jakarta merasa berada di keluarga yang tepat (NGI). Saya beradaptasi menjadi lebih dewasa dan membuka cakrawala pengetahuan saya dengan mencoba seselaras mungkin dengan alam semesta ini. Saya rasa bentuk manusia modern ke depan ialah manusia-manusia yang mau hidup lebih “hijau” dan sustainable. Generasi muda seperti kita inilah yang akan menentukan masa depan dunia dalam seabad ke depanlah setidaknya.


Posted in Uncategorized | 10 Comments »

Menyelami Harmoni Kehidupan Torosiaje Laut (2-habis)


Posted by hafidznovalsyah on March 22, 2011

Mbo Kadami

Mbo Kadami

Sejurus kemudian kami merapat di salah satu sisi jembatan panjang yang menjadi seperti “halaman” rumah Jacko. Dua anak gadisnya yang cantik, ramah menyapa dan menyuguhkan minuman teh segar kepada saya dan Ridwan. Setelah menitipkan sebagian isi tas saya di rumah itu, saya segera diajak Jacko menyusuri lorong-lorong jembatan kampung Suku Bajo di Torosiaje Laut.

Berdasar cerita Jacko, beberapa tahun lalu pemerintah setempat sudah memiliki program untuk “mendaratkan” perkampungan suku laut ini, maksudnya memindahkan kampung mereka ke atas daratan. Karena dianggap kehidupan akan berlangsung lebih baik karena akan banyak alternatif pekerjaan (selain melaut) bagi mereka dan suku ini menjadi tidak lagi terpencil. Saat itu hampir semua penduduk mau untuk pindah ke darat (Torosiaje), tetapi mereka tidak puas. Selain rumah yang berukuran kurang sesuai, sulitnya mendapatkan air tawar juga menjadi halangan yang berarti bagi mereka yang saat itu beradaptasi hidup di darat. Mengubah kultur hidup dari kebudayaan “memanen” seperti nelayan menjadi bertani, yang mendapatkan uang dengan interval waktu yang lebih lama, bukan merupakan hal mudah dilalui. Akhirnya berangsur-angsur mereka kembali ke “tanah” leluhur mereka, di laut. “Sejatinya kami (Suku Bajo) ialah suku laut, oleh karena itu kami lebih baik dan bisa untuk hidup di laut. Biarlah laut menjadi halaman rumah sekaligus tumpuan hidup kami,” ucap Jacko.

Sore itu karena hari libur, anak-anak di sana terlihat santai. Sejumlah gadis belasan tahun terlihat asyik mengobrol bersandar di sisi lorong-lorong, sementara para pemuda lebih banyak terlihat berkumpul bersenda gurau di warung sederhana. Di tengah perjalanan berkeliling, ada jembatan yang tidak lengkap kayunya, karena sedang diperbaiki. Hanya ada tiga ruas panjang yang melintang, saya dan Ridwan jadi ragu untuk melintas. Jadi jembatan seperti bolong sepanjang sekitar tujuh meter. Lalu Jacko dengan senyum khasnya berkata, “tidak apa-apa, kalaupun jatuh kan tidak dalam”. Saya hanya bisa menyahut dengan tersenyum kecut, tentunya peralatan kamera tidak akan saya biarkan ikut tercebur jika saya jatuh. Akhirnya saya berjingkat melangkah pelan-pelan melalui titian di salah satu ruas kayu dasar jembatan yang melintang. Beberapa warga yang sedang bercengkrama menikmati senja tertawa geli melihat saya yang berkeringat meniti kayu itu, lengkap dengan muka serius karena fokus berhati-hati. Sekali lagi, saya hanya bisa tersenyum kecut ke arah mereka.

Di tengah riuhnya suasana kesibukan sore masyarakat di kampung itu, saya diajak untuk singgah di salah satu rumah. Di teras rumah itu ada seorang nenek yang sepertinya sudah sangat tua. Ia masih terampil menganyam daun-daun untuk dijadikan bahan pelapis atap rumah. Ia adalah Mbo Kadami, penduduk tertua di Torosiaje Laut. Menurut Jacko yang juga diamini oleh dua orang anak dari Mbo Kadami yang sedang berada di situ, ia telah berumur sekitar 120 tahun. Memiliki 11 orang anak yang empat di antaranya sudah meninggal dunia. Perempuan yang terlihat sudah sangat renta dengan rambut putih digelung ke atas ini dengan terbata menceritakan bahwa ia sudah ada sejak Belanda menduduki negara ini. Dalam ceritanya, saat ia masih kecil dan Suku Bajo masih hidup di atas perahu, ia dan orang tuanya sering bertemu dengan kapal-kapal Belanda. Hingga saat ini masih ada warga yang meminta Mbo Kadami untuk membantu kelahiran bayi (dukun beranak). Saya setengah tidak percaya mendengar cerita itu, karena apakah tenaganya masih mampu untuk membantu proses kelahiran yang tentunya menguras tenaga. Lalu anaknya menjelaskan, saat membantu proses kelahiran, Mbo Kadami akan dirasuki oleh roh leluhur sehingga ia menjadi kembali segar dan terampil membantu proses kelahiran tradisional. Saya mencoba menerima cerita itu sebagai keunikan dari harmoni kehidupan di sini.

Saat senja menjelang, akhirnya saya yang “kesurupan” memotret. Saya kembali meniti sebatang kayu di ujung lorong, agar bisa memotret di sisi terluar dari ujung kampung ini. Saya terduduk, kaki saya mengunci badan saya agar tidak terjatuh ke laut, dan terkagum-kagum lalu memuji nama Sang Khalik. Senja yang luar biasa indah dilukiskan oleh Sang Raja Manusia di ufuk barat langit Torosiaje yang bersih dari polusi. Temaram lembayung biru dipantulkan sewarna di permukaan laut yang bergelombang dalam desir angin. Gradasi jingganya mulai menjelas saat mentari semakin tergelincir seolah tenggelam ke dalam air. Perahu-perahu nelayan yang melintas di depan lensa lebar saya terekam sebagai siluet yang indah laksana simbol kampung ini yang merupakankampung nelayan tradisional. Semburat merah muda terlepas dari bilik awan, menggaris tegas di atas kanvas biru langit saat semakin mendekati malam hari.

Keesokan harinya gerimis membasahi “lapangan” air di tengah kampung di lepas pantai ini. Irama gemericik air bersahutan dengan celoteh percakapan kedua putri dan istri Jacko di dapurnya. Mereka memasakkan kami hidangan sarapan pagi. Aromanya sedap menyeruak hingga ke teras depan rumah, tempat di mana meja makan ditempatkan untuk menjamu tamu-tamu yang datang. Usai sarapan gerimis sudah berhenti, mendung berganti dengan semu biru langit pagi yang indah. Saya tertarik untuk melihat nelayan yang mencari ikan di Teluk Tomini, tidak terlalu jauh ke arah selatan dari kampung ini. Kami pun diantar seorang kerabat Jacko dengan perahunya. Di tengah perjalanan kami melintasi “bate”, semacam kain putih yang diikatkan di atas tongkat yang berdiri menancap di dasar laut. “Bate” berfungsi sebagai tolak bala bagi seluruh penjuru kampung. Seorang nelayan kami dekati dan ia pun tidak berkeberatan untuk bertegur sapa sejenak dengan saya dan Ridwan. Ia terlihat membawa pancing, semacam tombak, dan jaring di atas perahunya yang sederhana dari kayu batang pohon besar dengan cekungan untuk penumpang di tengahnya. “Semua peralatan tradisional selalu siap untuk menangkap rejeki dari laut”, jelasnya. “Bahkan menyelam untuk menangkap rejeki itu kami sanggup”, imbuh Jacko. Senada dengan yang tertulis di kaos hitam kesayangan Jacko, “Ilmu Bajo; Setinggi Langit dan Sedalam Lautan”.

Suku Bajo yang konon tersebar di seluruh penjuru dunia dan berbicara dalam bahasa yang sama, bahasa Bajo merupakan potret kehidupan masyarakat tradisional yang menyatu dengan harmoni kehidupan alam. Di saat alam sudah semakin sering menunjukkan amarahnya pada manusia yang kerap lalai akan kelestarian lingkungan, mengingat kehidupan tradisional suku laut ini dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan yang serasi dan harmonis dengan alam adalah pilihan yang bisa diambil pasca era revolusi industri dan modernisme yang sudah semakin menunjukkan keusangannya.

Rumah terapung

Rumah terapung

Mengintip dari dinding kayu

Mengintip dari dinding kayu

Membakar perahu untuk menghilangkan lumut

Membakar perahu untuk menghilangkan lumut

Panel surya

Panel surya

Bedak dingin

Bedak dingin

Kerang pemberat jaring

Kerang pemberat jaring

Menjemur ikan asin

Menjemur ikan asin

Menjaring di permulaan hari

Menjaring di permulaan hari


Posted in Uncategorized | 6 Comments »

Menyelami Harmoni Kehidupan Torosiaje Laut


Posted by hafidznovalsyah on March 21, 2011

Dua perahu melintasi horizon pagi

Dua perahu melintasi horizon pagi

Siang itu, tepat di hari pertama tahun 2011, matahari terik menyinari pesisir Gorontalo dengan diselingi angin laut yang melambaikan barisan nyiur. Musik daerah Gorontalo yang berdendang keras di dalam mobil membuat saya tetap terjaga dalam perjalanan yang cukup melelahkan menyusuri jalan trans-selatan dari Kota Gorontalo ke Popayato. Tak bisa dipungkiri, penat sangat terasa karena saya harus duduk memangku tas kamera saya yang penuh selama hampir enam jam di dalam kendaraan umum jenis L300 yang ditumpangi sebelas orang dewasa plus empat anak-anak, penuh sesak!

Selepas melewati Tilamuta, pemandangan Pantai Bolihutuo dan Pantai Libuo yang indah terlihat dari dalam mobil yang melaju kencang, seolah mengintip dari sela-sela pepohonan yang berkelebat terlewati. Cukup menghibur dan serasa sebuah janji yang melambungkan harapan saya akan indahnya pemandangan perkampungan laut Suku Bajo di Torosiaje Laut, di ujung perjalanan ini.

Menjelang sore satu demi satu penumpang turun di tujuannya masing-masing, hanya menyisakan tiga orang penumpang, yaitu saya, pemandu saya, Ridwan, dan seorang bapak berumur sekitar separuh baya. Bapak itu mencairkan suasana dengan bertanya ramah kepada saya, “Mau pergi ke mana?”. “Ke Torosiaje Laut”, jawab saya ramah. Kemudian beliau mengatakan sesuatu dalam bahasa daerah Gorontalo kepada sopir, lalu tersenyum memandang saya. Saya yang tidak mengerti apa yang dibicarakan hanya membalas senyum, meski bingung. Tidak lama kemudian bapak itu turun di pinggir jalan, lalu angkutan kembali melaju kencang. Hingga akhirnya dari dalam mobil saya melihat papan bertuliskan “Terminal Popayato” (yang seharusnya menjadi tujuan kami) terlewati, saya pun setengah berteriak (karena suara musiknya sangat keras) mengingatkan si sopir. Sambil tersenyum si sopir menjawab bahwa bapak tadi yang merupakan penumpang langganannya meminta ia untuk mengantar kami langsung ke dermaga yang menuju ke Torosiaje Laut. Saya mengucapkan terima kasih dan ingin sekali rasanya mengucapkan terima kasih ke bapak tadi atas keramahtamahnnya yang sangat membantu kami.

Dermaga yang kami tuju ternyata merupakan dermaga sederhana. Ada satu warung makan sederhana dengan teras berdinding kayu di satu sudut tanah lapang yang ada di situ. Sebentuk bangunan kecil yang berfungsi sebagai loket masuk berada di sisi lainnya dan menjadi seperti pintu masuk menuju ke semacam jalan kecil beralas kayu. Di situlah kami bertemu dengan Jacko, penduduk yang biasa menyambut tamu yang berkunjung ke Torosiaje Laut.

Kami segera meloncat hati-hati berpindah ke perahu Jackson yang saat itu memakai kaos hitam bertuliskan “Ilmu Bajo”. “Tidak sampai setengah jam kita akan sampai di Torosiaje Laut, Kampung Suku Bajo!” serunya bangga. Panasnya menyeberang laut dengan perahu tanpa atap tidak lagi saya hiraukan. Hijau segar daun tanaman bakau dan langit yang terpantul biru di laut membius saya untuk mulai memotret. Saya berkata pada diri saya sendiri, “petualangan yang sebenarnya baru dimulai!”

Lamat-lamat terlihat rumah-rumah berjajar, seolah mengapung di horizon permukaan laut. Semakin perahu mendekat, terlihat rumah-rumah itu seperti meninggi. Akhirnya jelas terlihat dengan gagahnya perkampungan rumah panggung yang berdiri kokoh di atas laut dangkal.
Sebuah “jembatan” yang merupakan gang penghubung antarsisi kampung layaknya gapura kami terobos dari bawahnya, sejumlah warga sedang melintasi di atas jembatan itu tersenyum melihat kami (terutama mungkin saya yang sibuk memotret dengan berdiri di atas perahu kecil dan Jacko yang kerepotan menyeimbangkan perahu). Tata letak kampung ini seperti huruf U besar yang menghadap ke arah laut yang sejatinya ialah Teluk Tomini. Perahu-perahu berlalu lalang silih berganti, ada yang masih menggunakan dayung, ada pula yang sudah menggunakan mesin tempel. Saya takjub. Bersambung.

(Artikel ini juga dimuat dalam majalah National Geographic Traveler-Indonesia Vol. 3, No. 3, 2011).

Merangkai bambu bakal keramba ikan

Merangkai bambu bakal keramba ikan

Jalan penghubung antar rumah

Jalan penghubung antar rumah

Mencari kerang

Mencari kerang

Belanja terapung

Belanja terapung

Suasana malam

Suasana malam

Kepiting dan kerang berbagi tempat di tiang rumah

Kepiting dan kerang berbagi tempat di tiang rumah

Bendera putih keramat berada di pusat kampung

Bendera putih keramat berada di pusat kampung


Posted in Uncategorized | 20 Comments »